Wednesday, July 10, 2013

BUDIDAYA SAPI POTONG (sebuah analogi ilustrasi)



Dalam budidaya sapi potong terdapat beberapa kegiatan yang saling terkait, yaitu: (i) pelestarian, (ii) pembibitan, (iii) perkembangbiakan atau cow-calf operation (CCO), (iv) pembesaran dan (v) penggemukan. Kegiatan pelestarian biasanya dilakukan oleh masyarakat, misalnya pada sapi Bali, sehingga sering disebut sebagai genetic conservation by community. Sementara itu, konservasi murni biasanya dilakukan oleh Pemerintah untuk kerabat liarnya, misalnya konservasi Banteng di Pangandaran, Baluran dan Ujung Kulon.
Usaha CCO bertujuan untuk menghasilkan pedet atau sapi bakalan yang dibesarkan untuk penggemukan. Saat ini, usaha peternakan untuk menghasilkan sapi bakalan 99% dilakukan oleh peternakan rakyat yang umumnya berskala kecil dengan tingkat kepemilikan 2 – 3 ekor/KK atau bahkan saat ini hanya sekitar 1 – 2 ekor/KK. Usaha ini biasanya terintegrasi dengan kegiatan lainnya, sehingga fungsi sapi sangat komplek dalam menunjang kehidupan peternak. Dalam hal ini, petani hanya berperan sebagai keeper atau user, bukan sebagai producer, walaupun secara ekonomis (parsial) tidak memberi keuntungan (profit). Namun usaha ini dirasakan peternak tetap memberi manfaat (benefit), dengan cara membatasi penggunaan eksternal Input. 
Sebuah contoh kasus, biaya pakan seekor induk kita misalkan sekitar Rp. 10.000/ekor/hari, jarak beranak sekitar 400 hari, maka biaya pakan untuk menghasilkan pedet sedikitnya Rp. 4 juta/ekor. Bila diasumsikan biaya pakan adalah 70% dari biaya produksi, maka biaya untuk menghasilkan seekor pedet terlahir sekitar Rp. 5,7 juta/ekor. Sementara itu harga (nilai) pedet umur sehari paling tinggi sekitar Rp. 2 – 3 juta/ekor, dan baru dapat dijual setelah disapih (> 3 bulan). Taksiran harga-harga di atas dapat disesuaikan untuk masing-masing daerah. Fakta inilah yang menjadi alasan, mengapa hampir tidak ada investor yang tertarik dalam usaha CCO.
Usaha pembesaran dan penggemukan akan lebih menarik bagi investor, dan saat ini peternak kecilpun sudah mulai mengembangkan usaha ini. Sehingga tidak mengherankan kebutuhan terhadap impor sapi bakalan selalu tinggi. Jika tanpa strategi dan interfensi Pemerintah usaha CCO akan menjadi langka dan kita akan terus mengimpor bakalan. Demikian juga pada peternakan kambing atau domba, dengan pola konsumsi yang tinggi tanpa adanya program CCO yang jelas sejak dini bukan tidak mungkin hal serupa dapat terjadi, meski diakui kelahiran domba relatif cepat dibanding sapi (bisa mencapai 3 kali kelahiran dalam 2 tahun).


 Salam,

 d2t3m

No comments:

Post a Comment