Dalam
budidaya sapi potong terdapat beberapa kegiatan yang saling terkait, yaitu: (i)
pelestarian, (ii) pembibitan, (iii) perkembangbiakan atau cow-calf operation
(CCO), (iv) pembesaran dan (v) penggemukan. Kegiatan pelestarian biasanya
dilakukan oleh masyarakat, misalnya pada sapi Bali, sehingga sering disebut
sebagai genetic conservation by community. Sementara itu,
konservasi murni biasanya dilakukan oleh Pemerintah untuk kerabat liarnya, misalnya
konservasi Banteng di Pangandaran, Baluran dan Ujung Kulon.
Usaha CCO bertujuan
untuk menghasilkan pedet atau sapi bakalan yang dibesarkan untuk penggemukan. Saat ini,
usaha peternakan untuk menghasilkan sapi bakalan 99% dilakukan oleh peternakan
rakyat yang umumnya berskala kecil dengan tingkat kepemilikan 2 – 3 ekor/KK
atau bahkan saat ini hanya sekitar 1 – 2 ekor/KK. Usaha ini biasanya
terintegrasi dengan kegiatan lainnya, sehingga fungsi sapi sangat komplek dalam
menunjang kehidupan peternak. Dalam hal ini, petani hanya berperan sebagai keeper
atau user, bukan sebagai producer, walaupun secara
ekonomis (parsial) tidak memberi keuntungan (profit). Namun usaha ini
dirasakan peternak tetap memberi manfaat (benefit), dengan cara
membatasi penggunaan eksternal Input.
Sebuah contoh kasus, biaya
pakan seekor induk kita misalkan sekitar Rp. 10.000/ekor/hari, jarak beranak sekitar 400
hari, maka biaya pakan untuk menghasilkan pedet sedikitnya Rp. 4 juta/ekor.
Bila diasumsikan biaya pakan adalah 70% dari biaya produksi, maka biaya untuk menghasilkan
seekor pedet terlahir sekitar Rp. 5,7 juta/ekor. Sementara itu harga (nilai)
pedet umur sehari paling tinggi sekitar Rp. 2 – 3 juta/ekor, dan baru dapat dijual
setelah disapih (> 3 bulan). Taksiran harga-harga di atas dapat disesuaikan
untuk masing-masing daerah. Fakta inilah yang menjadi alasan, mengapa hampir tidak
ada investor yang tertarik dalam usaha CCO.
Usaha pembesaran dan
penggemukan akan lebih menarik bagi investor, dan saat ini peternak kecilpun
sudah mulai mengembangkan usaha ini. Sehingga tidak mengherankan kebutuhan terhadap impor sapi bakalan selalu tinggi. Jika tanpa strategi dan interfensi Pemerintah usaha CCO akan menjadi langka dan kita akan terus mengimpor bakalan. Demikian juga pada peternakan kambing atau domba, dengan pola konsumsi yang tinggi tanpa adanya program CCO yang jelas sejak dini bukan tidak mungkin hal serupa dapat terjadi, meski diakui kelahiran domba relatif cepat dibanding sapi (bisa mencapai 3 kali kelahiran dalam 2 tahun).
Salam,
d2t3m